Kamis, 22 Oktober 2015

Menginterpretasi Makna Teks Pantun

Pelajaran 2
Menambah cita rasa bahasa melalui seni berpantun.
Kegiatan 1
Pembangunan konteks dan pemodelan teks pantun.
Tugas 4
Menginterpretasi makna teks pantun. *Hal.87

Dalam menginterpretasikan makna teks pantun tergantung pada pemahaman dan kecerdasan penerjemahnya. Secara ideal, sebuah teks pantun bersifat mengingatkan, memberi tunjuk ajar, dan memberi nasihat. Hal ini sesuai dengan ungkapan yang menyebutkan "Hakikat Pantun Menjadi Penuntun".
1)     Perhatikan ketiga bait pantun berikut ini secara seksama.
            Jikalau gelap orang bertenun,
            bukalah tingkap lebar-lebar.
            Jikalau lenyap tukang pantun,
            sunyi senyap bandar yang besar.

            Bila siang orang berkebun,
            hari gelap naik ke rumah.
            Bila hilang tukang pantun,
            habislah lesap petuah amanah.

            Kalau pedada tidak berdaun,
            tandanya ulat memakan akar.
            Kalau tak ada tukang pantun,
            duduk musyawarah terasa hambar.
Ketika tidak dibacakan pantun, bandar yang besar menjadi sunyi senyap, tidak ada amanah, dan musyawarah terasa hambar. Hal itu terjadi karena di dalam pantun terdapat tunjuk ajar. Selain itu, dengan menggunakan pantun, kita dapat berkomunikasi tanpa menyinggung lawan bicara. Dalam menyatakan rasa kasih sayang, benci, atau tidak suka akan lebih mudah jika disampaikan melalui pantun daripada diucapkan secara langsung. Menurut Poedjawijatna, menyampaikan sindiran akan lebih mudah karena pantun dapat " Mencubit tanpa menimbulkan rasa sakit". Tafsirlah beberapa baik teks pantun berikut ini.
            Apa guna orang bertenun,
untuk membuat pakaian adat.
Apa guna orang berpantun,
untuk memberi petuah amanat.

Apa guna orang bertenun,
untuk membuat kain selendang.
Apa guna orang berpantun,
untuk memberi hukum dan undang.

Apa guna orang bertenun,
untuk membuat kain dan baju.
Untuk apa orang berpantun,
untuk menimba berbagai ilmu.

Kalau hendak berlabuh pukat,
carilah pancang kayu berdaun.
Kalau kurang mengetahui adat,
carilah orang tahu berpantun.

* Petuah         : Nasihat.
Pantun yang pertama menjelaskan mengenai pentingnya berpantun sebagai bentuk penyampai nasihat, ajaran moral, dan sebagainya.
* Hukum        : Peraturan atau adat.
Pantun yang kedua menjelaskan mengenai adat atau peraturan yang berada di suatu daerah yang tercermin dari pantun. Digambarkan bahwa setiap benda memiliki manfaat dan fungsi, seperti sebuah alat tenun yang menghasilkan selendang. Kemudian fungsi pantun adalah untuk mengetahui adat dan norma yang berlaku di seluruh wilayah.
* Menimba     : Mencari, mengambil, memperoleh.
Pantun ketiga menjelaskan mengenai tujuan orang yang berpantun adalah untuk mencari berbagai ilmu atau pengetahuan.
Pantun yang keempat menjelaskan mengenai bagaimana cara berintegrasi dengan aman ke dalam suatu kaum adalah dengan mengetahui orang yang mengetahui adat di wilayah tersebut. Disini orang yang mengetahui adat digambarkan dengan mengetahui pantun.

2)     Agar kalian semakin mahir, cobalah kalian interpretasikan lagi makna teks pantun berikut ini.
Orang Sibu menunggang kuda,
kuda ditunggang patang tulang.
Masih mau mengaku muda,
padahal cucu keliling pinggang.
Ø  Pantun tersebut menggambarkan seseorang yang tidak tahu diri, yang mengaku dirinya masih muda padahal ia sudah tua dan telah memiliki banyak cucu.

Burung pipit memakan padi,
burung enggan pergi ke hutan.
Tidak puas di dalam hati,
kalau tidak bersama tuan.
Ø  Pantun tersebut menggambarkan tentang seseorang yang selalu merasa hampa atau tidak puas jika tidak bersama dengan orang yang disayanginya.

Buah cempedak di luar pagar,
ambil galah tolong jolokkan.
Saya budak baru belajar,
kalau salah tolong tunjukkan.
Ø  Pantun tersebut menceritakan/menggambarkan tentang seorang anak yang baru belajar atau belum mengerti yang baik dan buruk. Jadi jika ia salah, harap diberitahu.

Kayu cendana di atas batu,
sudah diikat dibawa pulang.
Adat dunia memang begitu,
benda yang buruk memang terbuang.
Ø  Pantun tersebut menggambarkan tentang seseorang di dalam dunia ini yang tidak berguna akan selalu melakukan tindakan yang buruk untuk orang disekitarnya suatu saat akan tersisih, itulah dunia. Yang tidak baik disingkirkan oleh yang lebih baik.

Orang bayang pergi mengaji,
ke Cubadak jalan ke Panti.
Meninggalkan sembahyang jadi berani,
seperti badan tak akan mati.
Ø  Pantun tersebut menggambarkan tentang seseorang yang terlalu menikmati duniawi, sehingga ibadah kepada Tuhan yang menciptakannya saja lupa dan melupakan bahwa kematian itu akan didapatnya. Dia yakin bahwa ia akan hidup abadi (bisa hidup tanpa Tuhan), sehingga ia meninggalkan shalatnya.
Reaksi:

1 komentar:

Tinggalkan jejak sobat Blogger, jangan jadi Silent Reader --